
Dalam arus globalisasi dan kemajuan teknologi pendidikan, Kampung Inggris Pare di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, tetap menjadi magnet bagi ribuan pelajar dari seluruh Indonesia. Kawasan ini bukan sekadar tempat belajar bahasa, tetapi juga simbol transformasi sosial dan ekonomi berbasis pendidikan yang lahir dari semangat masyarakat lokal dalam membangun suasana lingkungan belajar bahasa asing yang inklusif.
Kampung Inggris berlokasi di dua desa: Desa Tulungrejo dan Desa Pelem, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri. Suasana dua desa ini sangat khas karena penuh deretan lembaga bahasa, sepeda, kos sederhana, warung makan, hingga papan-papan bertuliskan kursus bahasa asing di setiap sudut jalan.
Fenomena Kampung Inggris bermula pada tahun 1977, saat Mr. Kalend Osen (sering disebut Mr. Qolani), seorang alumni Pondok Modern Gontor asal Kalimantan, mulai membuka kursus kecil bernama Basic English Course (BEC) di rumahnya. Awalnya, ia hanya mengajar 6 murid dari pesantren sekitar. Tak disangka, metode pembelajarannya yang komunikatif membuat banyak orang tertarik datang ke Pare. Berdasarkan data dari Pemerintah Kabupaten Kediri tahun 2025, Kampung Inggris menampung lebih dari 20.000 pelajar aktif setiap bulan, dengan total lebih dari 150 lembaga kursus yang tersebar di Tulungrejo dan Pelem.Selain bahasa Inggris yang menjadi ciri khas utama, beberapa lembaga juga telah membuka kursus Bahasa Arab, Mandarin, Korea, Jepang, dan Jerman. Beberapa lembaga terkenal antaraSejak berdirinya Basic English Course (BEC) pada 1977 di Desa Tulungrejo, Pare, Kediri, kawasan ini berkembang pesat menjadi pusat pembelajaran bahasa terbesar di Indonesia.
Setiap tahun, ribuan pelajar dari berbagai provinsi datang untuk meningkatkan kemampuan bahasa asing. Meskipun mayoritas masih berfokus pada Bahasa Inggris, minat terhadap bahasa lain seperti Arab, Mandarin, Jepang, dan Korea juga mulai meningkat seiring dengan tuntutan globalisasi dan peluang kerja internasional.
Berdasarkan berbagai laporan media lokal dan data perkiraan komunitas Kampung Inggris (2024), distribusi peserta yang belajar di Pare dapat dilihat dalam tabel berikut.
Tabel 1. Estimasi sebaran peserta lembaga bahasa asing di Pare, Kediri.
| No. | Bahasa yang Dipelajari | Perkiraan Persentase Peserta | Contoh Lembaga Terkait |
| 1 | Bahasa Inggris | 75% | BEC, Happy English Course, Titik Nol English, Access English, Mahesa Institute |
| 2 | Bahasa Arab | 8% | Markaz Arabiy, Al-Izzah Arabic Center |
| 3 | Bahasa Mandarin | 7% | Mandarin Center Pare, Sinology Course |
sumber: Data diolah penulis, 2025
Data tersebut menunjukkan dominasi Bahasa Inggris yang masih menjadi magnet utama bagi pelajar di Pare, namun juga menandakan munculnya diversifikasi lembaga kursus untuk memenuhi kebutuhan komunikasi lintas budaya.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa Kampung Inggris telah berevolusi dari sekadar tempat belajar grammar dan speaking menjadi ekosistem pembelajaran multibahasa yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
Ke depan, tantangan utama bagi lembaga-lembaga di Pare adalah mempertahankan kualitas pengajaran dan mengadopsi sistem hybrid learning agar tetap relevan di tengah persaingan platform pembelajaran online.
Jika strategi ini berhasil dijalankan, Kampung Inggris tidak hanya akan tetap eksis, tetapi juga berpotensi menjadi model nasional untuk pengembangan kawasan pendidikan berbasis masyarakat.
Sedangkan, jika dilihat dari asal pelajar atau yang ingin mempelajari Bahasa berasal dari hampir seluruh penjuru di Indonesia dari Sabang sampai Merauke.
Setiap tahun, ribuan pelajar dari berbagai penjuru Indonesia datang ke Pare, Kediri, untuk menimba ilmu bahasa asing di kawasan yang dikenal luas sebagai “Kampung Inggris.”
Daya tariknya bukan hanya pada biaya belajar yang terjangkau dan metode pembelajaran yang intensif, tetapi juga pada suasana lingkungan yang kondusif dan komunitas pelajar yang beragam.
Heterogenitas asal pelajar ini telah menciptakan interaksi sosial yang dinamis sekaligus memperkuat citra Pare sebagai destinasi pendidikan nasional. Berdasarkan data perkiraan komunitas pendidikan Pare (2024), sebaran asal peserta belajar bahasa dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 2. Sebaran asal peserta belajar bahasa dapat dilihat pada tabel berikut
| Kawasan / Provinsi (grup) | Estimasi % asal pelajar (perkiraan) |
| Jawa Timur (termasuk lokal Kediri/Pare) | 23% |
| Jawa Tengah + Yogyakarta | 15% |
| Jawa Barat | 13% |
| Sumatra (gabungan seluruh provinsi Sumatra) | 12% |
| Sulawesi | 12% |
| Kalimantan | 6% |
| Bali + Nusa Tenggara (NTB, NTT) | 8% |
| Maluku + Papua | 2% |
| Luar negeri / internasional | 1% |
| Lain-lain / tidak disebut | 8% |
| Total | 100% |
Sumber: Data diolah penulis, 2025.

Efek Ekonomi yang Menggeliat
Kehadiran ribuan pelajar setiap bulan memicu multiplier effect yang luar biasa bagi perekonomian lokal. Berdasarkan rumus ekonomi sederhana dari Keynesian Multiplier:
k = 1 / (1 – MPC).
Jika diasumsikan marginal propensity to consume (MPC) masyarakat Pare adalah 0,8 (80% pendapatan digunakan untuk konsumsi), maka nilai pengganda (k) adalah 5.
Artinya, setiap Rp1 juta uang yang dibelanjakan pelajar di Pare dapat menciptakan perputaran ekonomi sebesar Rp5 juta bagi masyarakat sekitar.
Dengan estimasi rata-rata 20.000 pelajar membelanjakan Rp2 juta per bulan, total perputaran ekonomi bisa mencapai Rp200 miliar per bulan.
Menurut salah satu warga setempat “Sekarang hampir setiap rumah punya kamar kos. Dulu sawah, sekarang jadi kos-kosan, warung makan atau laundry dan tempat kursus” ujar Fatimah Rahma (47), seorang warga Desa Tulungrejo yang sudah 8 tahun membuka usaha kos-kosan (Rahma House).
Hal ini terlihat dari menjamurnya usaha pendukung seperti kos-kosan, warung makan, laundry, percetakan, hingga toko sepeda. Pemerintah Kabupaten Kediri bahkan mengakui bahwa Kampung Inggris menjadi salah satu sumber PAD terbesar sektor jasa di wilayah Pare.
Tantangan dan Strategi Bertahan
Meski menjadi ikon nasional, Kampung Inggris kini menghadapi tantangan serius: kompetisi dari kursus digital seperti Ruangguru, Zenius, dan Duolingo. Namun banyak lembaga tidak tinggal diam.
Menurut survei internal redaksi terhadap 10 lembaga di Pare:
- 70% mengaku jumlah siswa meningkat pascapandemi,
- 60% sudah menerapkan model hybrid,
- dan 80% warga sekitar merasakan peningkatan pendapatan dari aktivitas pelajar.
Respon Pemerintah dan Masa Depan Kampung Inggris
Pemerintah Kabupaten Kediri berencana menjadikan Kampung Inggris sebagai Zona Edukasi Internasional melalui program digitalisasi pendidikan dan wisata edukatif. Kepala Dinas Pendidikan Kediri menyebutkan, “Kami menargetkan Pare bukan hanya sebagai kampung bahasa, tapi juga pendidikan global yang mengintegrasikan pembelajaran budaya dan ekonomi kreatif.”
Ke depan, penguatan branding, kolaborasi dengan perguruan tinggi, dan sertifikasi tutor menjadi strategi utama agar Pare tidak kehilangan pamor. Namun, para pengelola lembaga sepakat bahwa keberlangsungan Kampung Inggris tetap bergantung pada semangat komunitas dan keunikan atmosfer belajar yang tidak bisa digantikan dunia virtual.
Meski kursus online semakin populer, banyak pengajar dan pelajar yakin Kampung Inggris di Pare tidak akan tergantikan, salah satu pelajar yang berasal dari Kendari, Sulawesi menyatakan bahwa “Belajar di Pare bukan cuma soal belajar grammar; TOEFL; IELTS; atau Bahasa lainnya, tapi soal interaksi kebersamaan, suasana positif (positive vibes), disiplin dan intensivitas timbal-balik (feedback) yang terarah diberikan oleh tutor (teacher) sangat membantu dalam meningkatkan skill menjawab soal listening, reading, writing and speaking. “Belajar off line saja masih susah kok belajar bahasa inggri online” ujar Fikri salah satu peserta kursus bahasa inggris di Pare sambil tertawa
Disamping banyaknya tempat kursus babasa inggris juga terdapat beberapa tempat Bimbingan Belajar ( Bimbel ) untuk Para Calon Mahasiswa yang akan mengikuti ujian masuk Perguruan tinggi idaman ( UTBK ) seperti Bimbingan belajar Erlagga Education. **** Absar ***

V – TIME adalah Salah satu tempat Kursus bahasa inggris di Kampung inggris Pare, Kediri
Alamat : JL. Dahlia No. 99 Pare, Kediri, Jawa Timur