
Jakarta, Metroone.com – Ketua BEM UGM, Tiyo Ardiyanto, mengungkap dirinya menjadi sasaran teror beruntun sejak 9 Februari dari nomor-nomor tak dikenal dengan kode Inggris Raya (+44). Teror beruntut tersebut didapatkan usai dirinya menyuarakan isu anak bunuh diri di NTT dan mengkritisi kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat. Tiyo bersama pengurus BEM UGM lainnya juga sempat melayangkan surat resmi kepada UNICEF mengenai kasus anak bunuh diri di NTT yang tak mampu membeli buku dan pena yang harganya tak samapai sepuluh ribu rupiah.
Pola serangan yang dialami Toyo bukan sekadar pesan biasa, melainkan ancaman yang terstruktur dan disertai tuduhan serius.
tak hanya itu, muncul pula konten manipulatif yang menyerang ranah personal. Salah satunya berupa gambar bertuliskan “awas LGBT di UGM” disertai fotonya. Tiyo merasa framing itu sengaja dibangun untuk merusak reputasinya. “Saya memang tidak punya kekasih, saya tidak punya pacar, tapi bukan karena itu lalu bisa seenaknya di-framing seperti itu,” katanya. Motif Pembunuhan Serangan semakin masif ketika beredar konten yang disebutnya sebagai pembunuhan karakter berbasis kecerdasan buatan. Foto dirinya disebut di-generate menggunakan artificial intelligence (AI) dengan narasi bahwa ia kerap menyewa LC karaoke dan menjalin komunikasi asmara. “Yang pertama soal LGBT itu sangat menjijikkan, yang kedua ini pembunuhan karakter,” tegasnya. Ia menilai pola ini sebagai upaya sistematis untuk menjatuhkan kredibilitasnya di ruang publik.