KEDIRI – Ketika banyak sekolah berlomba-lomba mempercantik taman, membangun gapura megah, atau menata jaringan internet super cepat, SMAN 1 Plemahan Kediri justru memulai langkah transformasi pendidikan dari tempat yang sering dianggap sepele: toilet.
Sekolah yang berada di Kabupaten Kediri ini percaya bahwa kenyamanan dan pendidikan karakter bisa tumbuh dari ruang-ruang kecil yang kerap dilupakan. Ya, dari toilet yang bersih, manusiawi, dan layak.
“Bicara transformasi sekolah, kadang yang terbayang adalah hal-hal yang besar. Padahal, menurut saya, transformasi bisa dimulai dari hal kecil yang sering terabaikan. Mulailah dari toilet sekolah,” ungkap Kepala SMAN 1 Plemahan, Suyud Prabudi, dengan mata berkaca-kaca saat ditemui pada Senin (26/5/2025).
Menurutnya, toilet sekolah bukan hanya soal sanitasi. Ia adalah cermin budaya kebersihan dan kepedulian. Suyud mengaku punya cita-cita sederhana namun bermakna besar: menghadirkan toilet yang bersih, wangi, dan nyaman seperti toilet hotel.
“Bukan soal kemewahan, tapi soal pelayanan. Kami ingin murid-murid, guru, bahkan masyarakat yang datang ke sekolah ini merasa dihargai dan nyaman. Kami ingin sekolah ini menjadi rumah kedua yang benar-benar layak,” tambahnya.
Toilet yang bersih, terang, dan terawat bisa menciptakan atmosfer psikologis yang positif bagi siswa. Mereka tak lagi harus menahan buang air karena jijik atau takut. Bagi Suyud, itu bagian dari hak dasar anak untuk belajar di tempat yang sehat dan layak.

Kondisi toilet di sekolah ini sebelumnya memang jauh dari harapan. Banyak murid yang enggan menggunakannya. Dari situlah semangat perubahan itu tumbuh. Dimulai dari gotong royong, pengadaan alat kebersihan, hingga rutinitas pengecekan harian, kini toilet SMAN 1 Plemahan mulai berubah wajah.
Namun perjuangan belum selesai. Sekolah masih terus berbenah, dan Suyud tak henti menyalakan harapan.
“Semoga apa yang kami lakukan bisa menular ke sekolah-sekolah lain. Kami ingin memberi pesan: pendidikan yang bermakna bisa dimulai dari tempat paling sederhana. Semoga suatu hari nanti, toilet kami benar-benar seperti yang saya impikan, seperti di hotel, bersih, harum, dan manusiawi,” ujarnya, menutup wawancara dengan suara pelan.
Transformasi pendidikan memang tak selalu harus megah. Terkadang, ia cukup dimulai dari sebuah pintu kecil yang dibuka dengan cinta: pintu toilet sekolah.